Oleh: MUH. ZAINI, QH., SH., M.E.
24 Maret 2026
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu kebijakan strategis pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi siswa. Secara konseptual, program ini tidak hanya menyentuh aspek kesehatan, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang dalam pembangunan sumber daya manusia.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa implementasi program ini belum sepenuhnya berjalan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.
Berbagai laporan dari sekolah dan masyarakat mulai mengindikasikan adanya kesenjangan antara konsep dan pelaksanaan. Hal ini menempatkan MBG sebagai program yang membutuhkan evaluasi serius dan menyeluruh.
Secara kebijakan, pemerintah telah menetapkan standar yang cukup jelas—mulai dari anggaran, komposisi gizi, hingga tata kelola distribusi. Setiap siswa dialokasikan anggaran sekitar Rp10.000 hingga Rp15.000 per hari, dengan komposisi gizi yang mencakup karbohidrat, protein, sayur, dan buah dalam jumlah tertentu.
Dalam kerangka tersebut, MBG seharusnya mampu memenuhi kebutuhan energi siswa di kisaran 400–600 kkal per porsi. Selain itu, aspek keamanan pangan juga menjadi prioritas, dengan kewajiban penerapan standar higienitas dalam setiap proses produksi dan distribusi.
Namun di lapangan, standar tersebut tidak selalu tercermin dalam praktik.
Sejumlah dapur SPPG dilaporkan melayani jumlah siswa melebihi kapasitas ideal. Kondisi ini berdampak pada proses produksi yang terburu-buru dan kurang terkontrol. Akibatnya, kualitas makanan menurun dan dalam beberapa kasus tidak lagi layak konsumsi.
Lebih jauh, ditemukan pula ketidaksesuaian dalam komposisi makanan. Tidak sedikit siswa yang hanya menerima nasi dengan lauk sederhana, tanpa sayur dan buah sebagaimana standar yang ditetapkan. Bahkan, terdapat laporan mengenai porsi makanan yang jauh di bawah ketentuan.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mendasar terkait efektivitas pengelolaan anggaran dan membuka ruang dugaan adanya penyimpangan dalam pelaksanaan program.
Persoalan menjadi semakin serius dengan munculnya beberapa kasus keracunan makanan di sejumlah daerah. Gejala seperti mual, muntah, dan pusing yang dialami siswa mengindikasikan adanya masalah dalam kualitas bahan makanan atau proses pengolahan yang tidak higienis.
Hal ini menunjukkan bahwa aspek keamanan pangan—yang seharusnya menjadi prioritas utama—belum sepenuhnya terjamin.
Jika ditelaah lebih dalam, persoalan ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga menyangkut tata kelola program secara keseluruhan. Rantai distribusi anggaran yang panjang berpotensi menimbulkan inefisiensi, terlebih jika tidak diiringi dengan sistem pengawasan yang kuat.
Dalam konteks ini, transparansi dan akuntabilitas menjadi kunci utama.
Di sisi lain, lemahnya pengawasan di tingkat lapangan turut memperbesar celah terjadinya penyimpangan. Tidak semua sekolah memiliki mekanisme kontrol yang memadai terhadap kualitas makanan yang diterima. Akibatnya, berbagai masalah tidak terdeteksi sejak dini.
Penguatan pengawasan partisipatif yang melibatkan sekolah dan masyarakat menjadi langkah penting untuk menutup celah tersebut.
Selain itu, peningkatan kapasitas sumber daya manusia juga tidak kalah krusial. Pengelola dapur SPPG harus memiliki pemahaman yang memadai terkait gizi dan keamanan pangan. Pelatihan dan sertifikasi perlu dilakukan secara berkelanjutan agar standar yang telah ditetapkan tidak berhenti di atas kertas.
Pemerintah juga perlu melakukan evaluasi secara berkala dan menyeluruh. Audit anggaran harus dilakukan secara transparan dan independen, sehingga setiap potensi penyimpangan dapat diidentifikasi dan diperbaiki sejak dini.
Pada akhirnya, keberhasilan program MBG tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah, tetapi juga oleh sinergi antara seluruh pihak—pemerintah, sekolah, masyarakat, dan penyelenggara di lapangan.
Tulisan ini bukanlah bentuk penilaian yang menyudutkan, melainkan refleksi kritis sebagai bentuk kepedulian terhadap keberlangsungan program yang sangat penting bagi generasi muda.
Karena pada akhirnya, program yang baik tidak hanya diukur dari konsepnya, tetapi dari seberapa konsisten ia dijalankan dan seberapa nyata dampaknya dirasakan.
Jika perbaikan dilakukan secara serius dan berkelanjutan, MBG tetap memiliki potensi besar untuk menjadi fondasi dalam menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas.
