WARTA NUSANTARA NTB
Edisi: Rabu, 19 Agustus 2026 | Seksi: Seni, Budaya & Kemasyarakatan
Penulis: Usman Jayadi
LOMBOK TENGAH — Masyarakat Desa Marong, Kecamatan Praya Timur, Kabupaten Lombok Tengah, melaksanakan tradisi turun-temurun Ngurisang — sebuah upacara adat Sasak yang dilaksanakan pada hari ke-9 sejak kelahiran seorang bayi. Acara yang berlangsung Rabu (19/8/2026) ini berjalan khidmat dan lancar, dihadiri unsur pemerintahan, tokoh agama, serta tokoh budaya setempat.
Dalam tradisi masyarakat Sasak di Desa Marong, Ngurisang merupakan bagian dari rangkaian syariat dan adat yang mengiringi kelahiran anak. Khusus untuk kelahiran bayi kembar berbeda jenis kelamin — yang dalam istilah lokal disebut kembar buncing — berlaku ketentuan adat khusus, yakni bayi harus dipisahkan dari keluarga besar selama 9 hari 9 malam, sebelum kemudian disatukan kembali melalui prosesi Ngurisang.
Acara Ngurisang kali ini dilaksanakan di kediaman keluarga Lalu Gde Hayang Deta dan dihadiri langsung oleh Camat Praya Timur, H. Jamardi S.Sos beserta jajarannya, Kepala KUA Kecamatan Praya Timur, tokoh agama terkemuka TGH. Saifullah Islam Sibawaihi, MA, serta Ketua Komite Seni dan Budaya (ISBN) Lombok Tengah, Haji Lalu Sahibi Ahmad.
Camat Praya Timur, H. Jamardi S.Sos, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi tinggi kepada masyarakat Desa Marong yang tetap teguh menjaga dan melestarikan warisan budaya leluhur. Menurutnya, tradisi seperti Ngurisang bukan sekadar seremonial, melainkan sarat nilai pendidikan, keagamaan, dan kearifan lokal yang mempererat tali persaudaraan.
"Kami sangat mengapresiasi komitmen warga Desa Marong dalam menjaga tradisi ini. Pemerintah Kecamatan Praya Timur akan terus mendukung setiap upaya pelestarian budaya yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama dan norma hukum yang berlaku," ujar Jamardi.
Sementara itu, tokoh budaya Haji Lalu Sahibi Ahmad menekankan bahwa Ngurisang adalah identitas jati diri masyarakat Sasak yang harus terus dijaga lintas generasi. Tradisi ini memadukan nilai-nilai Islam dengan adat istiadat yang telah mengakar sejak zaman nenek moyang, termasuk prosesi Orak Api dan ritual pembersihan serta penyatuan kembali bayi dengan keluarga besarnya.
Acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin TGH. Saifullah Islam Sibawaihi, MA, memohon keberkahan dan keselamatan bagi bayi, keluarga, serta seluruh masyarakat Desa Marong.
"Alhamdulillah acara berjalan lancar," ungkap Miq Antok, salah satu warga yang turut hadir dalam kegiatan tersebut.
